Jumat, 06 Juli 2012

PENGGUNAAN PENDEKATAN INQUIRY UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA MENGENAI KONSEP PANCA INDERA

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Judul Penelitian
“Penggunaan Pendekatan Inquiry untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Mengenai Konsep Panca Indera” (Penelitian Tindakan Kelas pada Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di Kelas IV Sekolah Dasar Negeri I Japara Kecamatan Japara Kabupaten Kuningan)”.

B.    Latar Belakang Masalah
Kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusianya dan indikator sumber daya manusia ditentukan oleh tingkat pendidikan masyarakatnya. Semakin tinggi tingkat pendidikannya maka akan semakin baik pula kualitas sumber daya manusia tersebut dan sebaliknya. Untuk mencapai kualitas sumber daya manusia yang tinggi diperlukan juga guru yang berkualitas dan memiliki kinerja yang tinggi pula.
Pendidikan merupakan salah satu sarana pembangunan yang selalu ditingkatkan, baik kualitas maupun kuantitasnya. Hal ini sangat diperlukan dalam rangka mengupayakan pembaharuan dan penyempurnaan pendidikan serta menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas. Pendidikan sangat penting dalam kehidupan dan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan, baik dalam kehidupan seseorang, keluarga, maupun bangsa dan negara. Maju mundurnya suatu bangsa banyak ditentukan oleh maju mundurnya kualitas pendidikan pada bangsa tersebut.
Hal ini didasarkan pada pengertian pendidikan menurut Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 bahwa :
“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran yang bertujuan agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”. (Depdiknas, 2006:7).
Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan hal yang sangat penting untuk dipelajari siswa karena Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berhubungan dengan cara penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses. Pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi siswa utuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar. Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif dan kesadaran tentang adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan, dan teknologi. Pembelajaran IPA memilki peran penting dalam perkembangan sikap ilmiah, dan intelektual pesrta didik. Melalui pembelajaran IPA siswa dapat membiasakan diri bersikap dan bekerja secara ilmiah yang pada akhirnya siswa akan terbiasa dapat memecahkan permasalahan secara ilmiah.
Belajar IPA mutlak harus dilakukan siswa sejak dini, untuk membekali siswa dengan kemampuan, berfikir logis, analitis, sistematis, kritis, kerja ilmiah, bersikap ilmiah dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama. Kompetensi tersebut diperlukan, agar siswa dapat memilki kemampuan meneliti, memperoleh, mengelola, memanfaatkan informasi dan teknologi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti dan kompetitif.
Selain itu, motivasi merupakan salah satu faktor yang sangat mempengaruhi prestasi belajar siswa. Apabila motivasi belajar tinggi maka prestasi belajar juga tinggi, atau sebaliknya.
Berdasarkan hasil pengamatan selama proses pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di kelas IV SDN I Japara pembelajaran belum maksimal karena keaktifan siswa belum terealisasi dengan baik, masih banyak guru menggunakan metode konvensional. Hal ini menunjukkan bahwa proses pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) masih berlangsung secara mekanis dan belum memberikan kesempatan kepada siswa untuk berperan aktif  mengemukakan pendapat dan belum memanfaatkan kemampuan yang ada pada diri siswa sehingga potensi siswa kurang berkembang. Akibatnya hasil belajar sebagian siswa  kelas IV dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) belum dapat mendeskripsikan panca indera dengan fungsinya.
Karena selama proses pembelajaran guru cenderung lebih berperan aktif menyampaikan materi pelajaran memberikan penjelasan berdasarkan buku sumber, sedangkan siswa hanya mencatat dan mendengarkan. Siswa terbatas hanya menghapalkan konsep-konsep atau langkah-langkah pemecahan suatu masalah. Akibatnya siswa merasa kebingungan dalam memecahkan masalah-masalah yang lebih kompleks.
Salah satu strategi pembelajaran dalam Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) adalah Pendekatan Pembelajaran Inquiry. Inquiry (Penemuan) merupakan model pengajaran dimana guru melibatkan kemampuan berpikir kritis siswa untuk menganalisis dan memecahkan persoalan secara sistematik. Yang utama dari metode Inquiry adalah menggunakan pendekatan induktif dalam menemukan pengetahuan dan berpusat kepada keaktifan siswa. Jadi bukan pembelajaran yang berpusat pada guru, melainkan kepada siswa. Itulah sebabnya pendekatan ini sangat dekat dengan prinsip kontruktivis, dimana pengetahuan itu dikonstruksi oleh siswa. Inti dari  metode ini adalah isi dan proses penyelidikan diajarkan bersama dalam waktu yang bersamaan. Siswa melalui proses penyelidikan akhirnya sampai kepada isi pengetahuan itu sendiri.
Berdasarkan permasalahan yang dipaparkan diatas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “PENGGUNAAN PENDEKATAN INQUIRY UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA MENGENAI KONSEP PANCA INDERA”, Penelitian Tindakan Kelas (PTK) pada SDN I Japara Kecamatan Japara Kabupaten Kuningan. Penelitian ini diharapkan siswa bukan hanya mengingat konsep tetapi juga hasil pengalamannya dalam menemukan sendiri dapat bermanfaat untuk pembelajaran selanjutnya dan bagi kehidupannya sehari-hari.
C.    Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka identifikasi masalah pada penelitian ini terfokus pada proses pelaksanaan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di kelas IV SDN I Japara Kecamatan Japara Kabupaten Kuningan dengan pokok bahasan panca indera.
Alasan yang mendasari penggunaan pendekatan inquiry pada pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) mengenai  panca indera yaitu pembelajarn yang berawal dari pengetahuan siswa, maka akan membantu siswaa untuk meningkatkan pemahaman suatu konsep, agar hasil belajar siswa meningkat. Sementara itu di sisi lain guru belum mampu untuk melakukan pembelajaran yang mampu meningkatkan hasil beajar siswa. Oleh karena itu permasalahan ini berkaitan erat dengan kemampuan guru dalam merancang strategi pembelajaran yang termuat dalam RPP, kemampuan guru dalam mengelola proses pembelajaran yang kondusif dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Secara garis besar maka masalah dalam penelitian ini adalah :
a.    Kemampuan dalam membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sebaiknya menggunakan metode yang bervariatif dalam pembelajarannya yang salah satunya dengan pendekatan inquiry pada materi panca indera.
b.    Kemampuan dalam melaksanakan pelaksanaan proses pembelajaran yang biasa dilakukan dengan menggunakan metode ceramah dan tanya jawab, kurang menampakkan keterlibatan siswa dalam belajar secara aktif.
c.    Kemampuan siswa dalam mengidentifikasi panca indera termasuk belum tuntas, ini dapat dilihat dari hasil belajar siswa dengan rata-rata kelas yang belum mencapai KKM.
D.    Rumusan Masalah
Berdasarkan masalah yang telah dipaparkan pada latar belakang masalah diatas, maka lebih khusus rumusan masalah dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah sebagai berikut :
a.    Bagaimana Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) pendekatan inquiry untuk meningkatkan hasil belajar siswa mengenai konsep panca indera di kelas IV SDN I Japara?
b.    Bagaimana proses pelaksanaan pembelajaran melalui pendekatan inquiry untuk meningkatkan hasil belajar siswa mengenai konsep panca indera di kelas IV SDN I Japara?
c.    Bagaimana hasil belajar siswa melalui pendekatan inquiry untuk meningkatkan hasil belajar siswa mengenai konsep panca indera di kelas IV SDN I Japara?
E.    Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang masalah dan rumusan masalah yang telah diuraikan di atas, maka tujuan yang ingin dicapai dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini adalah sebagai berikut :
a.    Untuk meningkatkan kemampuan dalam membuat rencana pembelajaran dengan menggunakan pendekatan inquiry dalam meningkatkan hasil belajar siswa mengenai panca indera di kelas IV SDN I Japara.
b.    Untuk meningkatkan kemampuan dalam melaksanakan proses pembelajaran dengan menerapkan pendekatan inquiry untuk meningkatkan hasil belajar siswa mengenai panca indera di kelas IV SDN I Japara.
c.    Untuk meningkatkan kemampuan hasi belajar siswa melalui pendekatan inquiry dalam meningkatkan hasil belajar siswa mengenai panca indera di kelas IV SDN I Japara.
F.    Manfaat Penelitian
1.    Manfaat Ilmiah
    Melalui penelitian ini dapat memperoleh tambahan pengetahuan mengenai teknik-teknik dan ketentuan penggunaan pendekatan inquiry dalam proses pembelajaran yang dapat dikembangkan di SD khususnya pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dalam meningkatkan hasil belajar siswa mengenai panca indera.
2.    Manfaat Praktis
a.    Bagi Siswa
Dengan penggunaan pendekatan inquiry pada pembelajaran Imu Pengetahuan Alam (IPA), diharapkan dapat membantu dan melatih siswa berfikir kreatif dan logis, dapat meningkatkan motivasi belajar siswa terhadap pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), serta dapat meningkatkan hasil belajar siswa khususnya pada materi panca indera.
b.    Bagi Guru
Dengan penggunaan pendekatan inquiry pada proses pembelajaran khususnya pada pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) diharapkan guru dapat mengembangkan keprofesionalan dan kreativitas dalam memberikan pengalaman langsung terutama bagi peneliti dalam memecahkan permasalahan yang ada selama proses pembelajaran di kelas.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

A.    Kajian Pustaka
1.    Sejarah Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan ilmu yang sudah sangat lama dikenal oleh manusia. Berawal dari rasa ingin tahu manusia akan dirinya sendiri, lingkungannya, kelangsungan hidupnya maupun kebutuhan hidupnya.
Dalam sejarah peradaban manusia tidak dapat dipungkiri bahwa Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) sangat berperan didalamnya. Pada zaman sebelum masehi ilmu pengetahuan sudah menjadi sorotan. Terdorong oleh adanya keinginan manusia untuk mencukupi kebutuhan hidupnya dan memudahkan kegiatannya, maka manusia terus menggali ilmu pengetahuan agar apa yang menjadi keinginannya bisa tercapai dengan mudah sehingga muncullah ilmuan-ilmuan yang fokus pada bidang-bidang tertentu.
Nuchelmans, 1982 (Fatimah : 2007) mengungkapkan bahwa “dengan munculnya Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) pada abad ke 17, maka mulailah terjadi perpisahan antara filsafat dan ilmu pengetahuan.” Dengan demikian sebelum abad ke 17 ilmu pengetahuan identik dengan filsafat. Pendapat tersebut sejalan dengan pemikiran Van Peursen (1985), yang mengemukakan bahwa “dahulu ilmu merupakan bagian dari filsafat, sehingga definisi tentang ilmu bergantung pada sistem filsafat yang dianut.”
Sementara itu menurut Koento Wibisono 1999 (Fatimah : 2007) mengatakan bahwa filsafat telah mengantarkan adanya suatu konfigurasi dengan menunjukkan bagaimana “pohon ilmu pengetahuan” telah tumbuh mekar bercabang secara subur. Masing-masing cabang melepaskan diri dari batang filsafatnya, berkembang mandiri dan masing-masing mengikuti metodologinya sendiri-sendiri. Dengan demikian, perkembangan ilmu pengetahuan semakin lama semakin maju dengan munculnya ilmu-ilmu baru yang pada akhirnya memunculkan pula sub-sub ilmu pengetahuan baru bahkan kearah ilmu pengetahuan yang lebih khusus lagi seperti spesialisasi-spesialisasi.
2.    Hakikat Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)
IPA adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang alam sekitar beserta isinya. Ini  berarti IPA mempelajari semua benda yang ada di alam, peristiwa, dan gejala-gejala yang muncul di alam. Ilmu dapat diartikan sebagai suatu pengetahuan yang bersifat objektif. Jadi dari sisi istilah IPA adalah suatu pengetahuan yang bersifat objektif tentang alam sekitar beserta isinya.
Perkembangan peradaban manusia tidak lepas dari peran serta penerapan (Ilmu Pengetahuan Alam) IPA baik dalam mengembangkan berbagai teknologi penunjang kehidupan maupun dalam menerapkan konsep (Ilmu Pengetahuan Alam) IPA dalam kehidupan bermasyarakat yang meliputi aspek politik, ekonomi, sosial, budaya dan pertahanan keamanan.
Terdapat tiga hakikat Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) diantaranya sebagai berikut :
1.    Hakikat Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Sebagai Proses
Proses yaitu urutan atau langkah suatu kegiatan untuk memperoleh hasil pengumpulan data melalui metode ilmiah. Contohnya, pengamatan tentang tumbuhan kacang hijau ditempat terang dan ditempat gelap. Tahapan dalam proses penelitian ini meliputi: (1) observasi, (2) klasifikasi, (3) intrepretasi, (4) prediksi, (5) hipotesis, (6) Mengendalikan variable, (7) Merencanakan dan melaksanakan penelitian eksperimen, dan (8) Menetapkan format tabulasi data.
2.    Hakikat Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Sebagai Produk
Produk adalah hasil yang diperoleh dari suatu pengumpulan data yang disusun secara lengkap dan sistimatis. Contoh, dari hasil pengamatan tanaman ditempat terang dan ditempat gelap maka dihasilkan perbedaan antara lain: (a) bentuk daun, (b) tinggi tumbuhan dan (c) warna tumbuhan. Ilmu pengetahuan Alam (IPA) sebagai produk terdapat empat bagian, diantaranya:
1. Fakta adalah pernyataan tentang benda yang benar-benar ada atau terjadi
Contoh: Kupang adalah ibu kota propinsi NTT
2. Konsep adalah kumpulan dari beberapa fakta yang saling berhububgan
Contoh: manusia
3. Prinsip adalah kumpulan dari beberapa konsep
Contoh: tumbuhan akan tumbuh keatas
4. Teori atau hukum adalah prinsip-prinsip yang sudah diterima
Contoh: teori Jean Peaget
3.    Hakikat Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Sebagai Sikap Ilmiah
Beberapa aspek sikap ilmiah yang dapat dikembangkan pada diri anak SD yakni:
1. sikap ingin tahu
2. sikap ingin mendapatkan sesuatu
3. sikap kerja sama
4. sikap tidak putus asa
5. sikap tidak berprasangka
6. sikap mawas diri
7. sikap bertanggung jawab
8. sikap berpikir bebas
9. sikap kedisiplinan diri

3.    Tujuan Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)
Pembelajaran adalah suatu proses untuk membuat seseorang belajar atau aktivitas yang dilakukan guru untuk menciptakan kondisi yang memungkinkan proses belajar siswa berlangsung secara optimal. Atau dapat dikatakan juga bahwa belajar adalah aktivitas yang sengaja dilakukan untuk memodifikasi berbagai kondisi yang diarahkan demi tercapainya tujuan pembelajaran melalui suatu proses belajar.
Dalam belajar diperlukan suatu proses untuk menciptakan lingkungan belajar agar siswa terkondisikan untuk belajar sendiri dan dibutuhkan suatu desain pembelajaran yang bisa mengoptimalkan siswa dalam belajar.
 Pembelajaran IPA di SD dapat mendorong siswa untuk aktif dan ingin tahu. Dengan demikian, pembelajaran merupakan kegiatan investigasi terhadap permasalahan alam di sekitarnya. Setelah melakukan investigasi akan terungkap fakta atau diperoleh data. Data yang diperoleh dari kegiatan investigasi tersebut perlu digeneralisir agar siswa memiliki pemahaman konsep yang baik. Untuk itu siswa perlu di bimbing berpikir secara induktif. Selain itu, pada beberapa konsep IPA yang dilakukan, siswa perlu memverifikasi dan menerapkan suatu hukum atau prinsip. Sehingga siswa juga perlu dibimbing berpikir secara deduktif.
Sementara itu pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) memiliki tujuan tersendiri agar siswa memiliki kemampuan sebagai berikut:
1.    Memperoleh keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan keberadaan, keindahan, dan keteraturan alam ciptaan-Nya.
2.    Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
3.    Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif dan kesadaran tentang adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), lingkungan, teknologi dan masyarakat.
4.    Mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan.
5.    Meningkatkan kesadaran untuk berperan serta dalam memelihara, menjaga dan melestarikan lingkungan alam.
6.    Meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segala keteraturannya sebagai salah satu ciptaan Tuhan.
7.    Memperoleh bekal pengetahuan, konsep dan keterampilan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) sebagai dasar untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi yaitu SMP/MTs.
(BSNP, 2006 : 487)

B.    Kerangka Berfikir
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) adalah ilmu yang merupakan paduan atau gabungan dari ilmu Fisika, Kimia dan Biologi. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) diharapkan menjadi wahana bagi siswa agar mempelajari diri sendiri dan alam sekitar saja, tetapi juga untuk prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari.
Proses pembelajarannya menekankan pada pemberian pengalaman langsung di lapangan untuk mengembangkan kompetensi agar siswa menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan manusia melalui pemecahan masalah yang dapat diidentifikasi. Penerapan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) harus dilakukan secara bijaksana agar tidak berdampak buruk terhadap lingkungan sekitar.
Untuk menciptakan pembelajaran yang efektif diperlukan berbagai keterampilan yang salah satunya adalah keterampilan memilih startegi pembelajaran.
Siswa perlu diarahkan agar mampu memahami bukan hanya mengingat suatu konsep saja akan tetapi konsep tersebut juga harus tertanam dalam benak (pikiran) siswa melalui kegiatan pembelajaran bermakna yang mengaktifkan siswa dalam belajar, selain itu pengetahuan awal mereka juga perlu diperhatikan dalam rangka membentuk pengetahuan baru yang mereka terima dan pada akhirnya mereka akan  memahami konsep-konsep lain yang ada disekitarnya, sehingga dapat menjadi bekal siswa untuk menghadapi pembelajaran selanjutnya.
Sealin itu guru juga memiliki tugas dalam proses pembelajaran untuk mendorong, memberikan fasilitas dan membimbing belajar siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Selain itu juga guru bertanggung jawab melihat segala sesuatu yang terjadi didalam kelas untuk membantu proses perkembangan siswa dalam belajar baik dari aspek individu seperti nilai penyesuaian diri maupun keterampilan yang harus dikuasai siswa untuk masa depannya kelak.
Penguasaaan terhadap konsep panca indera perlu ditekankan pada siswa sejak dini. Namun, fakta dilapangan menunjukkan bahwa penguasaan siswa terhadap konsep panca indera pada siswa kelas IV SDN I Japara masih rendah. Karena selama proses pembelajaran siswa kurang diberikan kesempatan untuk berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran, siswa hanya cukup diberikan penjelasan dan menulis kemudian dihapalkan, yang akibatnya jika diberikan pertanyaan banyak siswa yang mengeluh karena merasa kesulitan untuk menjawabnya dikarenakan mereka belum memahaminya dengan baik. Jadi diperlukan usaha yang serius oleh guru dalam membangun pemahaman siswa terhadap konsep panca indera, salah satunya dengan menggunakan pendekatan inquiry.
Pembelajaran inkuiri beriorientasi pada, keterlibatan siswa secara maksimal dalam proses kegiatan belajar, keterarahan kegiatan secara maksimal dalam proses kegiatan belajar, mengembangkan sikap percaya pada diri siswa tentang apa yang ditemukan dalam proses inkuiri
Metode Inquiry merupakan salah satu pendekatan dalam pembelajaran untuk menemukan/mengetahui/mendalami suatu konsep. Inquiry dapat diartikan sebagai proses yang dapat ditempuh manusia untuk mendapatkan informasi atau untuk memecahkan suatu permasalahan. Model pembelajaran inquiri didefinisikan Piaget (Sund dan Trowbridge, 1973) sebagai pembelajaran yang mempersiapkan situasi bagi anak untuk melakukan eksperimen sendiri dalam arti luas, ingin melihat apa yang terjadi, ingin melakukan sesuatu, ingin menggunakan simbol-simbol dan mencari jawaban atas pertanyaan sendiri, menghubungkan penemuan yang satu dengan yang lain, membandingkan yang ditemukan sendiri dengan yang ditemukan orang lain.
Tujuan umum dari model inquiry adalah membantu siswa mengembangkan ketrampilan intelektual dan ketrampilan-ketrampilan lainnya, seperti mengajukan pertanyaan dan menemukan mencari jawaban yang berasal dari keinginan mereka. Dengan model pembelajarn inquiry training akan membawa pikiran siswa untuk melakukan eksperiman dan mengumpulkan data. Dengan demikian berarti siswa telah terpancing untuk mengeluarkan ide-ide ketika guru mengajukan suatu masalah.
C.    Hipotesis
Menurut Sukayati (Yulianti 2008: 20) memberikan pengertian bahwa “rumusan hipotesis tindakan memuat jawaban sementara terhadap persoalan yang diajukan dalam penelitian”. Jawaban ini masih bersifat teoritik dan dianggap benar sebelum terbukti salah melalui pembuktian dengan penggunaan data dari hasil penelitian.
Berdasarkan hasil pengamatan  maka hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah “Jika penggunaan pendekatan inquiry pada materi panca indera dilaksanakan dengan langkah-langkah pembelajaran yang baik  maka, hasil belajar siswa akan meningkat”.
BAB III
METODE PENELITIAN
A.    Metode Penelitian
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) pertama kali diperkenalkan oleh ahli psikologi sosial Amerika yang bernama Kurt Lewin pada tahun 1946. Inti gagasan Lwein inilah yang selanjutnya dikembangkan oleh ahli-ahli lain seperti Robin Mc, John Elliot,  Stephen Kemmis, Taggart, Dave Ebbutt dan sebagainya. Di Indonesia sendiri Penelitian Tindakan Kelas (PTK) sendiri baru dikenal pada akhir tahun 80-an. Menurut Suharsimi (2002) “Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah penelitian tindakan yang dilakukan guru dikelas dengan tujuan untuk memperbaiki atau meningkatkan mutu praktik belajar siswa.”
Berdasarkan pengrtian di atas maka pada penelitian ini peneliti menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) model Kemmis Taggrat dengan pelaksanaan satu siklus sama dengan satu kali pertemuan dalam pembelajaran. Dalam satu siklus atau putaran tindakan ini terdiri dari empat komponen atau tahapan yaitu : (1) Perencanaan (planning), (2) Pelaksanaan (action), (3) Pengamatan (observing) dan (4) Refleksi (reflection).
Pelaksanaan tindakan model Penelitian Tindakan Kelas (PTK) model Kemmis dan Taggart, dengan pelaksanaan tindakan dalam beberapa siklus. Satu kali siklus mencakup :
1.    Perencanaan tindakan sesuai dengan permasalahan meliputi: menyusun RPP, membuat alat peraga, menyusun LKS, lembar evaluasi, dan instrumen pengamatan.
2.    Pelaksanaan tindakan meliputi: pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan RPP, penggunaan alat peraga untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi dan melaksanakan evaluasi untuk melihat kemampuan hasil belajar siswa.
3.    Selama proses pembelajaran diadakan observasi untuk mengukur tingkat keberhasilan suatu penelitian. Observasi tersebut mencakup beberapa hal antara lain; merancang RPP, proses pembelajaran dengan penggunaan alat peraga dan hasil belajar siswa.
4.    Berdasarkan hasil temuan dan rekomendasi observasi data yang terkumpul segera diolah dan dideskripsikan maknanya secara klasifikasi, dianalisis, didiskusikan dan dikaji ulang bersama observer. Terutama mengenai kelebihan dan kekurangan yang terjadi selama proses pembelajaran berlangsung. Hasil refleksi ini digunakan sebagai bahan pertimbangan pada penyusunan rencana perbaikan di siklus berikutnya.
Sementara itu bentuk Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) kolaboratif yang melibatkan beberapa pihak dengan jalinan bersifat kemitraan sebagaimana dijelaskan oleh Suharsimi (2008) bahwa :
“Dalam penelitian kolaboratif, pihak yang melakukan tindakan adalah guru itu sendiri, sedangkan yang diminta melakukan pengamatan terhadap berlangsungnya proses tindakan adalah peneliti, bukan guru yang sedang melakukan tindakan. Kolaborasi juga dapat dilakukan oleh dua orang guru, yang dengan cara bergantian mengamati. Ketika sedang mengajar, dia adalah seorang guru; ketika sedang mengamati, dia adalah seorang peneliti.”
Jika setelah suatu siklus selesai diimplementasikan dan direfleksi kemudian mengdakan perencanaan ulang yang dilaksanakan dalam bentuk siklus tersendiri. Demikian seterusnya atau dengan beberapa kali siklus yang diselenggarakan dengan berupaya menerapkan pendekatan inquiry secara efektif dan efisien dalam kegiatan belajar mengajar.
Untuk setiap siklus yang ada terfokus pada kegiatan sebagai berikut:
a.    Siklus I : meningkatkan kompetensi guru dalam membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan mengelola pelaksanaan pembelajaran serta meningkatkan hasil belajar siswa mengenai konsep panca indera melalui pendekatan inquiry dan menggunakan alat peraga sederhana yang ada.
b.    Siklus II : meningkatkan kompetensi guru dalam membuatRencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan mengelola pelaksanaan pembelajaran serta meningkatkan hasil belajar siswa mengenai konsep panca indera dengan mengidentifikasi bagian-bagian panca indera melalui pendekatan inquiry dengan menggunakan alat peraga sederhana.
c.    Siklus III : meningkatkan kompetensi guru dalam membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan mengelola pelaksanaan pembelajaran serta meningkatkan hasil belajar siswa mengenai konsep panca indera dengan pendekatan inquiry melalui kreativitas siswa dalam menggambar bentuk bagian-bagian panca indera pada kertas karton sebagai alat peraga.
B.    Operasionalisasi Variabel Penelitian
Variabel adalah kondisi atau karakteristik yang dimanipulasikan oleh peneliti dan observer agar variabel tersebut dapat terukut. Variabel tersebut didefinisikan dalam bentuk rumusan yang lebih operasional. Variabel penelitian dalam penelitian Tindakan Kelas (PTK) sendiri terdiri dari : variabel input, variabel proses dan variabel output.
1.    Variabel input
Variabel input meliputi kemampuan awal siswa dalam menguasai konsep panca indera serta hal-hal yang berkaitan dengan konsep panca indera. Kemampuan awal guru sebagai bekal dalam merancang proses pembelajaran menggunakan pendekatan inquiry untuk meningkatkan hasil belajar siswa mengenai konsep panca indera.
2.    Variabel Proses
Variabel proses pada penelitian ini mencakup:
a.    Keterampilan guru dalam membuat RPP dengan pendekatan inquiry pada materi konsep panca indera.
b.    Aktivitas guru dalam melaksanakan proses pembelajaran menggunakan pendekatan inquiry untuk meningkatkan hasil belajar siswa mengenai konsep panca indera.
c.    Aktivitas siswa dalam proses pembelajaran melalui pembelajaran inquiry dan alat peraga panca indera sederhana dengan panduan Lembar Kerja Siswa (LKS) untuk meningkatkan hasil belajar siswa mengenai konsep panca indera.
3.    Variabel Output
Variabel output (hasil) dari penelitian ini berkaitan dengan kualitas pembelajaran yaitu peningkatan hasil belajar siswa dalam memahami dan mengaktualisasikan konsep panca indera melalui kegiatan pembelajaran pendekatan inquiry. Sub variabel hasil terdiri dari:
a.    Kemampuan guru dalam membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
b.    Kemampuan gutu dalam melaksanakan proses pembelajaran, dan
c.    Kemampuan siswa dalam meningkatkan hasil belajar.
Variabel tersebut diukur dengan instrumen observasi terstruktur. Hasil observasi dinilai oleh partisipan secara triangulasi yaitu kepala sekolah, teman sejawat sebagai mitra dan dosen pembimbing. Pengukuran terhadap variabel proses dan variabel hasil dilakukan pada setiap siklus tindakan dan dijadikan sebagai bahan refleksi untuk perbaikan tindakan pada siklus berikutnya.
C.    Jenis dan Sumber Data
1.    Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1.    Riset Lapangan (Field Research), penelitian ini dilakukan secara langsung pada objek yang diteliti yaitu menggunakan angket (quesioner) dengan memberikan soal tertulis kepada siswa.
2.    Riset Kepustakaan (Library Research), dengan membaca dan mempelajari literatur-literatur yang berhubungan dengan masalah yang dibahas.
a.    Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a.    Tes
Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki siswa.
b.    Observasi
Observasi adalah suatu aktivitas yang sempit, yakni memperhatikan sesuatu dengan menggunakan mata. Observasi meliputi kegiatan pemuatan perhatian terhadap suatu objek dengan menggunakan seluruh panca indera.
c.    Dokumentasi
Dokumentasi adalah barang-barang tertulis yang dijadikan suatu  dokumen  didalam pelaksanaannya peneliti menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-buku, dokumen-dokumen, peraturan-peraturan, catatn harian dan lain sebagainya.

a.    Uji Instrumen
Uji instrumen dimaksudkan untuk mengetahui gambaran tentang terpenuhi atau tidaknya syarat-syarat instrumen sebagai alat pengumpulan data yang baik sehingga dapat digunakan dalam penelitian.
Adapun uji instrumen tersebut adalah sebagai berikut:
1)    Kategorisasi Data
Data yang diperoleh dalam penelitian ini disusun menjadi tiga kategori data yaitu:
a.    Perencanaan pelaksanaan pembelajaran dengan pendekatan inquiry,
b.    Pelaksanaan proses pembelajaran dengan pendekatan inquiry, dan
c.    Tes hasil belajar.
2)    Validasi Data
Agar data yang diperoleh valid perlu dilakukan teknik triangulasi dengan tindakan sebagai berikut:
a.    Menggunakan cara yang bervariasi untuk memperoleh data yang sama, misalnya dengan menilai hasil belajar tes tulis dan lisan.
b.    Menggali data yang sama dari sumber yang berbeda.
c.    Melakukan pengecekan ulang dari data yang telah tekumpul untuk kelengkapannya.
d.    Melakukan pengolahan dan analisis ulang dari data yang terkumpul.
e.    Mempertimbangkan pendapat ahli dan teman sejawat, guna pengecekan kebenaran data.
3)    Interpretasi Data
Jika data telah disusun, maka diinterpretasikan berdasarkan teori atau aturan yang telah disepakati antara peneliti dan guru untuk menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif sebagai acuan dalam melakukan tindakan selanjutnya.
2.    Populasi dan Sampel
Populasi adalah totalitas semua nilai yang mungkin, hasil mengukur  atau  menghitung kuantitatif maupun kualitatif mengenai karakteristik tertentu dengan semua anggota kumpulan yang lengkap dan jelas yang ingin dipelajari sifat-sifatnya. Populasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah seluruh siswa-siswi SDN I Japara Kecamatan Japara kabupaten Kuningan.
Sampel adalah sebagian karakteristik populasi dan memiliki karakteristik populasi. Jadi sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa-siswai kelas IV SDN I Japara.
D.    Analisa Data
Berdasarkan hasil pengamatan dan data yang terkumpul tahap selanjutnya yaitu analisis data. Utnuk mengecek dan mengetahui apakah data tersebut benar terhadap kualitas pembelajaran dan mempermudah penarikan kesimpulan.
Data dianalisis mulai dari awal penelitian, dikembangkan selama proses refleksi sampai proses penyusunan laporan dan ditapsirkan berdasarkan kajian pustaka. Sedangkan hasil belajar siswa dianalisis berdasarkan ketentuan belajar siswa.
1.    Coolding atau Lebeling, yaitu penetapan atau pengelompokan jenis kenerja yang diobservasi atau direfleksi pada setiap siklus tindakan. Meliputi kenerja merancang rencana pembelajaran dan instrumen penelitian kinerja dalam mengmplementasikan pendekatan inquiry.
2.    Teknik Triangulasi, merupakan teknik validasi data yang ditentukan oleh keahlian dan sumber data yang berasal dari berbagai pihak yang terkait.
3.    Teknik Kejenuhan, karena keterbatasan waktu penelitian, kejenuhan juga dijadikan teknik validasi data. Dengan teknik ini peneliti memastikan bahwa tindakan dan hasil perbaikan ditetapkan dengan batas optimal keberhasilan tindakan yang realitas dan pragmatis.
E.    Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di kelas IV SDN I Japara Kecamatan Japara Kabupaten Kuningan dan dilaksanakan pada tanggal 10 April 2012 – 10 Mei 2012.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar